Fase Remaja

    Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat erupakan the best of time and the worst of time.
Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja :
· Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
· Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
· G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan).
Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. 14-15 th); dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th).
Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikis, yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat, bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya :
Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.
Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.
Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.
Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Namun ketika, si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual, terutama melalui pendidikan di sekolah, maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Begitu juga masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya.
Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan.
Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.
Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Selain yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting.....
Read more...

Solusi Problem Remaja

Bagi seorang remaja, sekolah adalah dunia yang
penuh kesempatan penuh makna pembelajaran untuk bekal hidup.sekolah
adalah kebutuhan yang sifatnya formal dan menjadi tuntutan usia
perkembangan remaja. Dapat menikmati suka duka bersekolah dan
memperoleh ilmu dalam prosesnya bagi remaja adalah sebuah
keberuntungan. Hal ini disebabkan tidak semua remaja berkesempatan
bersekolah baik karena tidak mampu secara ekonomi ataupun tidak mampu
karena sebab lain.
Sekolah memberikan
keharusan bagi siswa untuk mencapai suatu standar kemampuan yang
bersifat akademis dan non akademis. Uuntuk mencapainya seorang sisiwa
remaja harus mengikuti proses pembelajaran secara disiplin dan penuh
perhatian dalam arti melibatkan diri secara fisik dan psikis dalam
proses pembelajaran.

Keterlibatan
secara fisik dan psikis bagi seorang remaja pelajar dalam pembelajaran
seringkali adalah hal yang sulit terwujud karena siswa tersebut
mengalami beberapa masalah yang menghambat proses belajar. Tak heran
kalau banyak siswa yang nilai akademisnya kurang baik, nilai non
akademisnya dibawah standar, karena ada penghambat proses keberhasilan
belajar yang mengungkung pribadi remaja tersebuit. Agar remaja pelajar
dapat membebaskan diri dari lingkungan masalah penghambat proses
belajar, maka perlu terlebih dahulu mengenai jenis persoalan yang
banyak dialami oleh remaja sebelum mengupayakan strategi pemecahannya.

Berdasar
dari curah pendapat lewat seorang murid, diperoleh sebuah pengakuan tentang ragam masalah yang
menjadi pengganggu belajar mereka. Secara umum masalah tersebut terdiri
dari :
1. Cinta
Remaja dan cinta
adalah dua hal yang tak terpisahkan. Diawali dari masa puber yang
ditandai dengan perubahan fisik seorang remaja belajar untuk mengenal
dan berelasi dengan lawan jenis dalam konteks hubungan yang melebihi
pertemanan.perilaku yang muncul sebagai ekspresi dari cinta ini dapat
kita lihat sebagai bentuk emosi – emosi yang sangant intens atau kuat.
Perasaan yang tenang mendadak menjadi gelisah, sangat riang, murung,
cemburu, sedih, bersemangat, marah dan berbagai emosi yang muncul
akibat perasaan cinta.aktifitas emosional yang
merupakan bagian dari otak kanan ini mendominasi aktifitas perilaku dan
membuyarkan keaktifan otak kognitif pada belahan otak kiri.
Mungkin
kita menjadi mafhum ketika kita melihat remaja yang jatuh cinta itu
kemudian menjadi uring – uringan, kurang konsentrasi belajar, mogok
sekolah, melamun, atau cuek dengan pelajaran dan mengikuti hanya
sekedar untuk menggugurkan kewajiban siswa atau sekedar mengisi absent
kehadiran karena otak limbic/emosi sedang mendominasi otak nalar atau
rasional..
Meski demikian, cinta adalah hal
yang normal muncul sebagai tanda kedewasaan.Untuk itu sebagai langkah
yang bijaksana adalah perlu mengarahkan siswa untuk memiliki sikap yang
tepat dalam menghadapi sindroma cinta. Siswa perlu diarahkan untuk
menerima cinta dengan penuh kesadaran bahwa untuk menjalani kehidupan
berpasangan dalam cinta harus mengikuti koridor aturan agama bukan
budaya. Sebab ketika mengikuti arus budaya maka cinta remaja seolah
adalah gaya hidup yang asyik, wajar bahkan dianjurkan. Akan tetapi
agama Islam membimbing remaja untuk menghargai cinta dan memperoleh
cinta dengan jalan mulia. Adapun cinta remaja adalah fitrah yang
membutuhkan pengendalian diri atau nafsu sampai pada bata ketika remaja
benar – benar telah dewasa dan siap membangun cinta yang bernuansa
ibadah karena Allah SWT yaitu pernikahan.
2. Kasih sayang orang tua dan keluarga
Hidup
tanpa kasih sayang tentu rasanya sengsara dan sedih. Orang yang sedih
sangat mungkin kehilangan gairah atau motivasi untuk belajar, meski
pada beberapa orang mencoba melupakan kesedihan dengan menyibukan diri
dengan bekerja atau mengejar prestasi sebagai pengalihan rasa sedih.
Bila
seorang siswa remaja meiliki masalah dengan kasih saying keluarga kita
dapat mengenali dari sikapnya yang kurang bersahabat, cenderung kasar,
nakal, atau justru terlihat minder dan kuper, toubel maker, egois, cari
perhatian, melanggar aturan dan sebagainya. Semua itu merupakan
ungkapan ketidak bahagiaannya atas kurang terpenuhinya kebutuhan siswa
tersebut dari kasih sayang terutama orang tua. Hal itu terjadi bisa
jadi karena orang tua sangat sibuk bekerja, kurang paham dalam tanggung
jawab, pola asuh, atau perpecahan keluarga.
Apa
yang dialami siswa dirumah kemudian terbawa kesekolah dalam wujud
perilaku yang kurang punya motivasi belajar, atau muncul dalam bentuk
seperti tersebut diatas.
Bagi siswa
remaja dengan masalah seperti itu, tentu butuh bantuan agar dia bisa
terhindar dari bertingkah laku yang merugikan dan tahu bagimana harus
bersikap dengan cara memberinya bimbingan dan pendekatan penuh kasih
saying agar siswa belajar mengenal tentang sikap kasih saying sekaligus
mtebuka pikirannya untuk melakukan pengendalian perilaku agar menjadi
siswa dan pribadi yang berhasil dalam kehidupan. Lebih utama lagi
ketika situasi keluarga dapat teratasi dan mengalami perbaikan baik
sebagai kerjasama sekolah dengan keluarga siswa ataupun proaktif siswa
secara pribadi dalam mengatasi masalahnya.
3. Guru
Guru
tidak selamanya menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan, disebabkan
guru adalah pribadi yang unik sebagaimana siswa, maka pendekatan dan
sikap guru sangat mungkin suatu saat menimbulkan pertentangan atau
hambatan dalam proses belajar. Contoh siswa yang merasa bosan dan
kurang diperhatikan karena tidak cantik atau tampan, siswa remaja yang
bermasalah namun diabaikan saja, siswa yang kurang bisa memahami
pelajaran akibat cara penyampaian guru, ketersinggungan siswa pada
guru, ketidak simpatikan guru dan lain – lain.
Hal
seperti itu, dapat diantisipasi dengan cara guru sering mengupayakan
umpan balik siswa dan mengevaluasi performancenya dari berbagai sumber
agar dapat melakukan perbaikan diri dan dapat menjadi pendidik yang
sukses.
4. Teman
Bagi remaja
teman adalah sangat penting dalam menemukan kepercayaan diri dan
penghargaan diri. Sikap teman dan pandangan teman adalah referensi
remaja dalam memahami dirinya, seringkali antar siswa remaja
memunculkan geng agar dirnya nampak kuat dan diakui lingkungan yang
dibangun berdasar kesamaan sifat atau ciri. Dalam hal kreatifitas dan
pergaulan hal ini seringkali memunculkan masalaha baru yaitu perilaku
pengucilan pada remaja yang berbeda atau lain geng.pada beberapa
kejadian sering kemudian terjadi pertikaian antar geng, ejek – mengejek
dengan teman diluar geng yang dapat memunculkan remaja tertentu
sebagai korban. Akibat yang muncul ialah hilangnya kepercayaan diri
korban dan rasa sakit hati yang sangat mengganggu pada konsentrasi
belajar, semangat sekolah , dan prestasi. Lebih dari itu sikorban
mungkin kemudian menjadi dendam dan melakukan tindakan yang dapat
merugikan dirinya seperti mabuk, drugs, mogok sekolah ,depresi, bunuh
diri, atau justru merugikan orang lain seperti melukai , mencuri,
membunuh dan sebaginya.
Hal ini terlihat
sederhana namun bisa menjadi rumit ketika perilaku yang menjadi akibat
sifatnya ekstrim dan berbau kriminal, maka, sekolah dapat
mengantisipasinya dengan cara membiasakan sikap menghargai teman,
menjaga ucapan kepercayaan diri, membiasakan kebersamaan dan kepedulian
pada teman dengan melakukan bimbingan sikap secara umum dan personal
pada seluruh siswa melalui program bimbingan dan konseling sekolah.
5. Pencarian jati diri
Masa
remaja diawali dari masa pubertas/baligh berkisar antara usia 9 tahun
ke atas. Pada masa tersebut seorang remaja biasanya sedang bingung
memandang dirinya, belum tahu harus seperti dan menjadi apa. Oleh sebab
itulah mereka mencari – carai figure yang mereka minati dan orang –
orang kagumi dengan mencari idola.selain memiliki idola merekapun belum
cukup mengerti tentang potensi diri dan bagaimana merancang kesuksesan
dengan modal tersebut. Untuk itulah seorang guru disekolah sangat
penting memberi bantuan arahan pengenalan dan pengembangan diri remaja.
6. Harapan
Setiap
remaja memiliki harapan seperti normalnya manusia.harapan yang
berkembang secara sehat adalah harapan yang sesuai dengan keadaan dan
kemampuan. Kadangkala remaja memiliki harapan yang berelebihan
sehingga ketika menghadapi kegagalan mengalami frustasi.bagi sebagian
remaja yang yang terbiasa dengan frustasi akan cenderung menyikapi
dengan ketegaran atau sabar tetapi bagi remaja yang selalu dimanja kan
merasa frustasi sebagai hal yang luar biasa sulit dan
menyiksa.sehingga konsentrasi belajar semakin menurun, motivasi
berkurang dan pikiran tersita pada frustasi – frustasi yang dialami .
Sebagai
remaja, adalah wajar apabila belum memiliki kemampuan untuk selalu bisa
memecahkan persoalan. Maka, sekolah dapat memberikan pengetahuan
berkehidupan dan cara- cara mengatasi persoalan agar bisa meraih
harapan, selain itu perlu pula bimbingan untuk menerima kenyataan
sebagai suatu pengalaman yang berharga dan sarana memperbaiki diri
berdasar introspeksi.
7. Uang
Sebagai
remaja, sebagian masih bergantung pada orang tua dalam hal keuangan.
Pola asuh orang tua dalam pengelolaan keuangan anak dapat menjadikan
anak bermasalah.orang tua yang terlalu longgar dalam memberi uang
meyebabkan anak boros, sombong dan cenderung bersikap semaunya. Adapun
yang terlalu ditekan dalam pemenuhan kebutuhan keuangan dapat
menyebabkan remaja menjadi frustasi, tertekan, psikosomatis, kurang
semangat belajar dan masalah perilaku atau kepribadian apabila
siremaja tidak dapat menerima kenyataan atau pola tersebut.
Mengatasi
keadaan tersebut, sekolah dapat membantu siswa untuk dapat menyikapi
pola asuh orang tua dalam hal keuangan secara tepat.aturan pembatasan
uang saku cukup dapat mebuat siswa terkondisi bersikap sederhana lebih
optimal lagi diiringi kesadaran orang tua untuk menumbunhkan sikap
hemat dan sederhana. Namun, bagi remaja yang memiliki kekurangan uang
harus banyak dibimbing untuk menerapkan sikap syukur dalam menerima
keadaan. Bagi remaja yang berpotensi dapat diarahkan untuk gemar
mengikuti kompetisi agar dia belajar mandiri dengan memanfaatkan
bakatnya .hal ini akan dirasakan siswa saat memperoleh bea siswa , uang
pembinaan sebagai penghargaan dan sebagainya.
Siswa
tidak hanya diajari bagaimana meminta uang namun mengelola dan juga
mengupayakannya. Melatih ketrampilan tangan atau boga dapat dijadikan
bekal untuk kelak remaja menekuni usaha produksi tertentu dalam rangka
belajar mandiri.
8. Egois
Egois
merupakan sifat yang khas pada remaja. Perilaku yang muncul bisanya
adalah perilaku ingin menang sendiri, kurang peka pada orang lain, dan
tidak peduli dengan keadaan sekitar. Sifat ini merupakan warisan bentuk
kekanak-kanakan yang dapat berubah setelah si remaja belajar untuk
bersikap lebih dewasa yaitu bertanggung jawab .
Sikap
egois ini dapat memunculkan masalah dalam pergaulan antar
remaja.biasanya ada remaja yang jadi korban.bagi sipelaku keegoisan ini
membuatnya dibenci dan dijauhi teman namun bisa jadi sipelaku tidak
cukup sadar kalau ia memiliki sifat egois atau ada juga yang merasa
bangga memiliki sifat egois. Namun siremaja akan terpukul dan merasa
bersedih hati serta kurang motivasi belajar saat dia mendapat masalah
dipergaulan. Untuk itu remaja dengan masalah sifat egois ini dapat
dibimbing oleh sekolah dan juga orang tua untuk berlatih membangun
sikap tanggung jawab, empati dan kepedulian sosial.
9. Aturan
Bagi
remaja hidup dalam aturan dapat dirasakan seperti penjara dan bukti
ketidak percayaan bahwa siremaja ini masih dianggap anak- anak. Maka
untuk membuktikan kemandiriannnya biasanya mereka suka memberontak dan
bergaya hidup semaunya. Namun hal ini akan dapat diatasi dengan
menumbuhkan kesadaran tentang konsekwensi dari ketidak teraturan dalam
kehidupan sehari – hari dan nyata sehingga siswa akan cenderung
menentukan sikap sendiri untuk dapat mentaati peraturan. Meski demikian
pada beberapa remaja yang sangat menonjol pembangkangannnya terhadap
aturan dapat dikenai sanksi mendidik yang disepakati sebagai tata
tertib sebagai bingkai pengkondisian perilaku, semata – mata untuk
kebaikan remaja tersebut bukan untuk menunjukkan otoritas.
10. pengendalian diri dan emosi
Remaja
memiliki ciri khas perkembangan yaitu emosional.hal ini dapat kita
lihat melalui ekspresi – ekspresi remaja yang cenderung sangat
menyolok.contoh saat mereka riang, murung, histeris dan sebagainya.pada
orang yang matang cenderung menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi
dan terbingkai dengan nilai kesantunan. Namun remaja justru membiarkan
emosi dilepaskan secara bebas.akibat dari pengungkapan emosi yang
cenderung tanpa kendali ini sering menimbulkan masalah dalam pergaulan
disekolah.
Emosionalitas remaja ini dapat
diredam dengan tata tertib sekolah atau kelas namun lebih mendasar lagi
dengan penanaman sikap kesantunan pada pikiran dan pembentukan sikap
agar pengendalian diri dan emosi ini muncul lebih sebagai pilihan yang
sadar bukan paksaan.
11. Kesehatan
Tidak
jarang remaja memiliki kebiasaan kurang sehat seperti begadang, main
play stasion overtime, diet agar langsing tanpa pertimbangan dokter dan
semacamnya.hal seperti ini dapat menurunkan kesehatan fisik dan juga
mental remaja, untuk itu perlu ketegasan orang tua dalam kebiasaan
dirumah serta bimbingan sekolah agar remaja mengetahui pola hidup sehat
yang akan mendukung belajarnya
12. Trend
Remaja
mengejar pengakuan dari orang – orang sekirtar dengan cara mengikuti
harapan kelompok, dengan mengikuti standar yaitu trend dan cenderung
menyamakan diri agar tidak dikucilkan.beberapa trend yang berkembang
dapat menjerumuskan remaja dalam penyimpangan moral seprti gaul bebas,
gangguan kesehatan seperti merokok dan narkoba , gaya hidup boros
seperti model HP terkini sebagai syarat gaul dan sebagainya.dalam hal
ini orang tua perlu memberi ketegasan dalam toleransi pemberian
fasilitas, sedangkan sekolah dapat memagari dengan tata tertib serta
penanaman sikap bahwa menjadi korban trend dapat menjerumuskan pribadi
remaja.
13. Teknologi
Bagi
remaja menguasai teknologi terkini adalah tantangan apalagi ketika itu
menawarkan keasyikan seperti chatting, surfing, download nett atau HP,
dan sebagainya.namun agar remaja tidak terjerumus dalam problem akses
situs porno, konsumen gambar porno HP, kecanduan Blue film, kecanduan
onani maka orang tua perlu secara tegas membatasi dan mengawasi serta
berkomunikasi dengan remaja tentang penggunaan alat teknologi tersebut.
Sekolah dapat memberi bimbingan yang mengarahkan kepada wawasan dan
filter remaja dalam menggunakan teknologi tersebut.
14. Stress
Remaja
selama bersekolah dapat mengalami stress akibat kecemasan terhadap
ujian, tugas – tugas yang tidak mampu dikerjakan, peraturan yang ketat
dan lain sebagainya. Stress dapat muncul dalam gejala yang beragam
dimulai dari kehilangan konsentrasi, gagap, pusing, berkeringat dingin,
gelisah, mimpi buruk, pingsan dan sebagainya sebagaimana DR.Dadang
hawari menjadikan empat kelas gejala stress dalam bukunya yang berjudul
al qur’an dan ilmu kesehatan jiwa.
Stress
tersebut, dapat menggangu proses keberhasilan belajar siswa yang masih
remaja.untu mengatasinya maka orang tua dan guru dapat mengajarkan cara
mengurangi stress yaitu dengan didasarkan pada penyebab munculnya
stress.apabila stress tersebut disebabkan sikap yang belum menerima
/rela maka perlu mengubah sikap. Apabila stress tersebut akibat ketidak
mampuan maka perlu giat berlatih. Apabila sumbernya adalah kesehatan
fisik, maka perlu upaya pengobatan.
15. Bimbingan
Remaja
sangat membutuhkan bimbingan agar dia dapat hidup dengan dewasa dan
mampu mengatasi masalah.dirumah seringkali orang tua tidak cukup waktu
membimbing karena sibuk bekerja.bebrapa yang lain tidak tahu apa yang
harus dibimbingkan pada remaja. Maka fungsi sekolah dalam membimbing
kedewasaan remaja sangat berperan.tentu ini akan terjadi apabila guru
menjalani profesinya dengan semangat pendidik yakni tidak semata
profesi tetapi juga mewujudkan siswa yang benar – benar terdidik tidak
hanya secara matematis akademis namun sekaligus moral siswa.apabila
remaja tidak mendapat bimbingan dari orang tua dan pendidik, mau jadi
seperti apa mereka?..................................???
Read more...

Bentuk Kenakalan Remaja

Adapun bentuk-bentuk dari kenakalan remaja adalah :
a. Kebut-kebutan dijalanan yang mengganggu keamanan lalu lintas dan membahayakan jiwa serta orang lain
b. Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan dan kadang-kadang pergi ke pasar untuk bermain game
c. Memakai dan menggunakan bahan narkotika bahkan hal yang mereka anggap ringan yakni minuman keras.
d. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lain dengan taruhan, seperti permainan domino, remi dan lain-lain.
e. Perkelahian antar geng, antar kelompok, antar sekolah, sehingga harus melibatkan pihak yang berwajib.
Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan Remaja
  1. Faktor Internal (Dalam)
a. Reaksi frustasi diri
Dengan semakin pesatnya usaha pembangunan, modernisasi yang berakibat pada banyaknya anak remaja yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan sosial itu. Mereka lalu mengalami banyak kejutan, frustasi, ketegangan batin dan bahkan sampai kepada gangguan jiwa.
b. Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak remaja
Adanya gangguan pengamatan dan tanggapan di atas sangat mengganggu daya adaptasi dan perkembangan pribadi anak yang sehat. Gangguan pengamatan dan tanggapan itu, antara lain : halusinasi, ilusi dan gambaran semua.
Tanggapan anak tidak merupakan pencerminan realitas lingkungan yang nyata, tetapi berupa pengolahan batin yang keliru, sehingga timbul interpretasi dan pengertian yang salah. Sebabnya ialah semua itu diwarnai harapan yang terlalu muluk, dan kecemasan yang berlebihan.
c. Gangguan berfikir dan intelegensi pada diri remaja
Berfikir mutlak perlu bagi kemampuan orientasi yang sehat dan adaptasi yang wajar terhadap tuntutan lingkungan. Berpikir juga penting bagi upaya pemecahan kesulitan dan permasalahan hidup sehari-hari. Jika anak remaja tidak mampu mengoreksi pekiran-pekirannya yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada, maka pikirannya terganggu.
d. Gangguan perasaan pada anak remaja
Perasaan memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebahagiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia. Jika semua tadi terpuaskan, orang merasa senang dan bahagia.
Gangguan-gangguan fungsi perasaan itu antara lain :
1) Inkontinensi emosional ialah tidak terkendalinya perasaan yang meledak-ledak, tidak bisa dikekang.
2) Labilitas emosional ialah suasana hati yang terus menerus berganti-ganti dan tidak tetap. Sehingga anak remaja akan cepat marah, gelisah, tidak tenang dan sebagainya.
3) Ketidak pekaan dan mempunyai perasaan biasa disebabkan oleh sejak kecil anak tidak pernah diperkenalkan dengan kasih sayang, kelembutan, kebaikan dan perhatian.
4) Kecemasan merupakan bentuk “ketakutan” pada hal-hal yang tidak jelas, tidak riil, dan dirasakan sebagai ancaman yang tidak bisa dihindari.
  1. Faktor Eksternal (Luar)
Selain faktor dari dalam ada juga faktor yang datang dari luar anak tersebut, antara lain :
a. Keluarga
Tidak diragukan bahwa keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan pribadi remaja dan menentukan masa depannya. Mayoritas remaja yang terlibat dalam kenakalan atau melakukan tindak kekerasan biasanya berasal dari keluarga yang berantakan, keluarga yang tidak harmonis di mana pertengkaran ayah dan ibu menjadi santapan sehari-hari remaja. Bapak yang otoriter, pemabuk, suka menyiksa anak, atau ibu yang acuh tak acuh, ibu yang lemah kepribadian dalam atri kata tidak tegas menghadapi remaja, kemiskinan yang membelit keluarga, kurangnya nilai-nilai agama yang diamalkan dll semuanya menjadi faktor yang mendorong remaja melakukan tindak kekerasan dan kenakalan.
Struktur keluarga anak nakal pada umumnya menunjuk­kan beberapa kelemahan/cacat di pihak ibu, antara lain ialah seba­gai berikut:
1) Ibu ini tidak hangat, tidak mencintai anak-anaknya, bahkan sering membenci dan menolak anak laki-lakinya, sama sekali tidak acuh terhadap kebutuhan anaknya.
2) Ibu kurang mempunyai kesadaran mengenai fungsi kewa­nitaan dan keibuannya; mereka lebih banyak memiliki sifat ke jantan-jantanan.
3) Reaksi terhadap kehidupan anak-anaknya tidak adekuat, tidak cocok, tidak harmonis. Mereka tidak sanggup memenuhi ke­butuhan anak-anaknya, baik yang fisik maupun yang psikis sifatnya.
4) Kehidupan perasaan ibu-ibu tadi tidak mantap, tidak konsis­ten, sangat mudah berubah dalam pendiriannya, tidak pernah konsekuen., dan tidak bertanggung jawab secara moral.
Beberapa kelemahan di pihak ayah yang mengakibatkan anaknya menjadi nakal mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mereka menolak anak laki-lakinya.
2) Ayah-ayah tadi hampir selalu absen atau tidak pernah ada di tengah keluarganya, tidak perduli, dan sewenang-wenang ter­hadap anak dan istrinya.
3) Mereka pada umumnya alkoholik, dan mempunyai prestasi kriminalitas, sehingga menyebarkan perasaan tidak aman (insekuritas) kepada anak dan istrinya.
4) Ayah-ayah ini selalu gagal dalam memberikan supervisi dan tuntunan moral kepada anak laki-lakinya.
5) Mereka mendidik anaknya dengan disiplin yang terlalu ketat dan keras atau dengan disiplin yang tidak teratur, tidak kon­sisten.
Selain itu, ada juga beberapa faktor yang datang dari keluarga, antara lain :
1) Rumah tangga berantakan. Bila rumah tangga terus ­menerus dipenuhi konflik yang serius, menjadi retak, dan akhirnya mengalami perceraian, maka mulailah serentetan kesulitan bagi semua anggota keluarga, terutama anak-anak. Pecahlah harmonis dalam keluarga, dan anak menjadi sangat bingung, dan merasa­kan ketidakpastian emosional. Dengan rasa cemas, marah dan risau anak mengikuti pertengkaran antara ayah dengan ibu. Mereka tidak tahu harus memihak kepada siapa. Batin anak menjadi sangat tertekan, sangat menderita, dan merasa malu akibat ulah orang tua mereka. Ada perasaan ikut bersalah dan berdosa, serta merasa malu terhadap lingkungan.
2) Perlindungan-lebih dari orang tua. Bila orang tua terlalu banyak melindungi dan memanjakan anak-anaknya, dan menghin­darkan mereka dari berbagai kesulitan atau ujian hidup yang kecil, anak-anak pasti menjadi rapuh dan tidak akan pernah sanggup belajar mandiri. Mereka akan selalu bergantung pada bantuan - orang tua, merasa cemas dan bimbang ragu selalu; aspirasi dan harga-dirinya tidak bisa tumbuh berkembang. Kepercayaan diri­nya menjadi hilang.
3) Penolakan orang tua. Ada pasangan suami-istri yang tidak pernah bisa memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu. Me­reka ingin terus melanjutkan kebiasaan hidup yang lama, bersenang-senang sendiri seperti sebelum kawin. Mereka tidak mau memikirkan konsekuensi dan tanggung jawab selaku orang dewasa dan orang tua. Anak-anaknya sendiri ditolak, dianggap sebagai beban, sebagai hambatan dalam meniti karir mereka. Anak me­reka anggap cuma menghalang-halangi kebebasan bahkan cuma merepotkan saja.
4) Pengaruh buruk dari orang tua. Tingkah-laku kriminal, a-susila (suka main perempuan, korup, senang berjudi, sering mabuk-mabukan, kebiasaan minum dan menghisap rokok ber­ganja, bertingkah sewenang-wenang, dan sebagainya) dari orang tua atau salah seorang anggota keluarga bisa memberikan pengaruh menular atau infeksius kepada anak. Anak jadi ikut-­ikutan kriminal dan a-susila, atau menjadi anti-sosial. Dengan be­gitu kebiasaan buruk orang tua mengkondisionir tingkah-laku dan sikap hidup anak-anaknya.
b. Lingkungan Sekolah yang Tidak Menguntungkan
Sekolah kita sampai waktu sekarang masih banyak berfungsi sebagai "sekolah dengar" daripada memberikan kesempatan luas untuk membangun aktivitas, kreativitas dan inventivitas anak. Dengan demikian sekolah tidak membangun dinamisme anak, dan tidak merangsang kegairahan belajar anak.
Selanjutnya, berjam-jam lamanya setiap hari anak-anak harus melakukan kegiatan yang tertekan, duduk, dan pasif mendengarkan, sehingga mereka menjadi jemu, jengkel dan apatis.
Di kelas, anak-anak-terutama para remajanya sering mengalami frustasi dan tekanan batin, merasa seperti dihukum atau terbelenggu oleh peraturan yang "tidak adil". Di satu pihak pada dirinya anak ada dorongan naluriah untuk bergiat, aktif dinamis, banyak bergerak dan berbuat; tetapi di pihak lain anak­ dikekang ketat oleh disiplin mati di sekolah serta sistem regimentasi dan sistem sekolah-dengar.
Ada pula guru yang kurang simpatik, sedikit memiliki de­dikasi pada profesi, dan tidak menguasai didaktik-metodik mengajar. Tidak jarang profesi guru/dosen dikomersialkan, dan pe­ngajar hanya berkepentingan dengan pengoperan materi ajaran belaka. Perkembangan kepribadian anak sama sekali tidak diperhatikan oleh guru, sebab mereka lebih berkepentingan dengan ­masalah mengajar atau mengoperkan informasi belaka.
c. Media elektronik
Tv, video, film dan sebagainya nampaknya ikut berperan merusak mental remaja, padahal mayoritas ibu-ibu yang sibuk menyuruh anaknya menonton tv sebagai upaya menghindari tuntutan anak yang tak ada habisnya. Sebuah penelitian lapangan yang pernah dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa film-film yang memamerkan tindak kekerasan sangat berdampak buruk pada tingkah laku remaja. Anak yang sering menonton film-film keras lebih terlibat dalam tindak kekerasan ketika remaja dibandingkan dengan teman-temannya yang jarang menonton film sejenis. Polisi Amerika menyebutkan bahwa sejumlah tindak kekerasan yang pernah ditangani polisi ternyata dilakukan oleh remaja persis sama dengan adegan-adegan film yang ditontonnya. Ternyata anak meniru dan mengindentifikasi film-film yang ditontonnya.
d. Pengaruh pergaulan
Di usia remaja, anak mulai meluaskan pergaulan sosialnya dengan teman-tema sebayanya. Remaja mulai betah berbicara berjam jam melalui telefon. Topik pembicaraan biasanya seputar pelajaran, film, tv atau membicarakan cowok/ cewek yang ditaksir dsb.
Hubungan sosial di masa remaja ini dinilai positif karena bisa mengembangkan orientasi remaja memperluas visi pandang dan wawasan serta menambah informasi, bahkan dari hubungan sosial ini remaja menyerap nilai-nilai sosial yang ada di sekelilingnya. Semua ­faktor ini menjadi penyokong dalam pembentukan kepribadiannya dan menambah rasa percaya diri karena pengaruh pergaulan yang begitu besar pada diri remaja, maka hubungan remaja dengan teman sebayanya menentukan kualitas remaja itu. Kalau ini disadari oleh remaja, maka dengan sadar remaja akan menyeleksi teman pergaulannya.
 
Semoga Remaja yang lainnya tidak pernah melakukan kenakalan-kenakalan seperti diatas dan menjadi seorang remaja yang berbudi pekerti baik,taat pada peraturan,orangtua,guru,selalu disiplin serta cerdas dan berinovativ memajukan bangsa kita INDONESIA Amien................
Read more...

Remaja Punya Masalah, No Problem!

      Adakah di antara kita yang sedang punya masalah? Kalau ada, berarti kita remaja normal. Hehe. Meskipun begitu, ada kalanya masalah yang kita hadapi bener-bener membuat kita stres! Contoh: kasus perceraian dalam keluarga, stres belajar, masalah telat ke sekolah karena ngga bisa mengatur waktu dan bahkan stres karena nge-jomblo!
:D
Tapi satu yang pasti: kalo kamu pernah atau sedang stres – itu tandanya kamu memikirkan masalahmu, tidak ingin mengabaikannya.

Namun, sayang sekali beberapa remaja tidak siap untuk menghadapi masalah. Yang ada mereka malah menghindar dan berupaya lari dari masalah – bukannya menyelesaikannya. Beberapa remaja banyak tidur, nonton teve, jatuh ke dalam jurang kenakalan remaja seperti menggunakan narkoba, menyalahgunakan obat-obat, pesta, dan ada yang melakukan tindakan seks di luar nikah.
Padahal mereka hanya akan dikatakan sebagai PENGECUT jika lari. Setuju?
:-q
Yup! Pengecut! Mereka berupaya mengalihkan perhatian… Bukan, bukan saja mengalihkan perhatian tetapi acuh dan melarikan diri. Kalo kek gitu, kapan masalahnya selesai, iya toh? Masalah malah akan bertambah jika cuma berani bermellow-mellow-an atau menjadi pemberontak.
[-(
Nah, buat remaja yang sekarang sedang punya yang namanya masalah,saya punya dua contoh barang yang mungkin bisa memotivasimu untuk berani menghadapi masalah!
1. Virus
Tau virus kan? Siapa yang ngga kenal virus. Virus bisa bertahan hidup sampai sekarang dan bahkan semakin kuat, dia menjadi resistan atau semacam kebal terhadap antibiotik. Semakin kita melenyapkan dia, dia semakin kebal.
2. Emas
Emas bisa jadi sangat indah dan murni karena apa? Dia harus ngelewatin proses kalo manusia yang mengalaminya pasti akan terasa sakit sekali. Yup! Dia harus dilebur dulu dalam tungku panas. Tapi, dengan cara itulah emas bisa seperti yang kita lihat!

Kesimpulannya:
Masalah boleh jadi datang bertubi-tubi menimpa kita, masalah juga datangnya pada saat yang tidak tepat, misal pada usia remaja yang seharusnya kita tidak alami itu. Namun, kalo kita ambil dari sisi positif dan kita berani menghadapinya – maka kita seperti virus dan emas! Semakin kuat dan kebal, makin ganteng/cantik, dewasa dan matang pula! Usia boleh remaja, tapi pikiran dewasa!
Semangat!
Read more...

Psikologi remaja ,karakteristik dan permasalahannya

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2. Ketidakstabilan emosi.
3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7. Senang bereksperimentasi.
8. Senang bereksplorasi.
9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.
Permasalahan Fisik dan Kesehatan
Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).
Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
Read more...

Masa Remaja Dulu dan Kini Berbeda

       MASA remaja adalah masa transisi ketika anak akan menjadi dewasa. Masa itu juga dianggap masa yang paling indah. Mengapa indah? Karena pada masa itu biasanya anak mulai mengenal lebih dekat lawan jenisnya. Bisa jadi muncul cinta pertama. Deg-degan, berjuta rasa, bercampur aduk. Ingatan itu akan membekas hingga dewasa.


MAUPUN agak norak tapi ada kelucuan di sana. Namun kadangkala masa remaja bisa Juga menjadi rawan. leni lama apabila remaja salah Jalan, baik dalam pergaulan atau cinta monyetnya.Psikolog masalah remaja Roslina Verauli mengatakan, masa remaja dulu dan sekarang sudah mengalami perubahan alias beda. Sehingga orangtua harus mau berubah untuk menyikapi perubahan itu. Jika gagal, akan ada gap yang besar antara orangtua dan anak, yang menyebabkan terhalangnya komunikasi dan kedekatan.
Terlebih kondisi orangtua dulu dan sekarang Juga mengalami perubahan. Misalnya ayah dan Ibu yang kini bekerja hingga malam, yang seringkali pulang ke rumah dalam keadaan lelah.Untuk menyingkapl kondisi Itu, orangtua dituntut pintar, banyak menggali Informasi lewat lnternet, baca buku, untuk mengetahui perkembangan kini dunia anak-anak dan remaja.
Perubahan cara berkomunikasi lewat teknologi Juga terus terjadi. Kini sedang booming adanya Jejaring pertemanan seperti Jacebook. twltter, dan lainnya. Sebelum era Jacebook, saat Internet mulai dikenal, masalah remaja adalah kegemaran membuka situs porno. Kini, selain masalah situs porno. Juga ditambah Jacebook (FB).Ada remaja yang menyingkapl FB dengan positif, ada Juga yang negatif. Misalnya ada remaja yang cuma memanfaatkan FB untuk memberikan komentar-komentar lucu, naksir teman di kelas, atau ingin lebih tahu mengenal orang yang ditaksir, dan sebagainya. Hanya sebatas itu.
Sementara yang negatif adalah FB digunakan untuk menciptakan ketergantungan kepada orang yang dikenalnya di Jejaring itu. sehingga akhirnya mau melakukan apa pun karena rasaketergantungan itu. Misalnya kabur dari rumah atau berhubungan Intim dengan teman yang baru dikenalnya di FB."Biasanya remaja yang seperti Itu kesepian, tidak bergaul dengan teman sebaya. gagal menampilkan eksistensi, sehingga ketika ada teman di FB yang dianggap bisa digebet, menjadi ketergantungan dan mau saja diajak apa-apa." kata Vera saat menjadi pembicara dalam talkshow Saatnya para remaja menunjukkan eksistensi diri melalui fotografi, dari Cometto. belum lama ini.
Konsep positif
Orangtua memang tidak bisa melarang anak remajanya membangun pertemanan, termasuk menjalin kedekatan dengan lawan Jenis. Pasalnya, manfaat yang bisa diambil Juga banyak. Menjalin hubungan dengan lawan Jenis pada remaja dan dewasa Juga ada perbedaan.Pada remaja, hubungan Ini lebih untuk bersenang-senang [having Jun), dan biasa dilakukan berkelompok. Misalnya rekreasi, nonton bareng, makan bareng, melakukan hobi bersama, belajar bersama. Manfaat lain dari hubungan ini. remaja belajar mengembangkan rasa sosial, belajar mengenal Upe-Upc orang, etiket berhubungan dengan lawan Jenis, dan membangun kedekatan dengan seseorang, dengan saling percaya, berbagi, dan membuka diri.
Pada anak yang punya konsep positif, dalam berhubungan dengan lawan Jenis (pacaran) tidak akan mau melakukan tindakan yang merugikan. Misalnya berhubungan badan, kabur dari rumah, serta tindakan negatif lainnya. Beda dengan remaja yang tidak punya konsep positif. Rasa ketergantungan terhadap pasangannya begitu kuat, sehingga mau melakukan hal apa pun. baik yang merugikan ataupun tidak.
Nah masalahnya, bagaimana mendidik anak supaya memiliki konsep positif? Tentunya dengan membangun potensi dan prestasi pada diri remaja tersebut Caranya dengan mengikuti kegiatan seperti ekskul. kursus/les yang bermanfaat, mengikuti ajang kompetisi, dan punya Jaringan pertemanan. Peran orangtua adalah memfasilitasi anak mengikuti kegiatan- kegiatan positif yang dilakukan remaja. Jangan hanya disuruh belajar di sekolah saja, walaupun belajar Juga penting.Sementara pada dewasa, hubungan pacaran lebih serius. Hubungan yang lebih intim secara emosional, eksklusif, dan sudah punya komitmen kuat.
Read more...

Solusi Orang Tua yang Bijak

Janganlah kamu sesat : Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

        Pergaulan adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan kita manusia, kususnya bagi anak-anak kita yang sedang memasuki masa remaja. Artist Joan Baez menuliskan sayair yang telah digubah menjadi satu lagu berjudul No Man Is an Island inilah sebagian dari syair lagu itu :
No man is an Island, No man stand alone
Each Man’s Joy is Joy tome, Each man’s grief is my own
We need one another, So I will defend
Each man as my brother, Each man as my friend.
Kita semua perlu menyadari bahwa ungkapan tidak seorangpun seperti sebuah pulau yang sanggup hidup sendiri tanpa kawan dan sahabat itu memang benar, karena kita adalah makhuk yang harus hidup bersosial. Namun Sekalipun Lagu yang berjudul No man is an Island ini telah banyak digemari oleh orang-orang muda bahkan telah dijadikan Ringtones HP milik sebagian orang-orang muda. Namun bila kita simak baik baik bagian akhir dari penggalan syair ini yang berbunyi Each man as my brother, Each man as my friend, tidaklah cocok dengan prinsip-prinsip pergaulan orang muda Kristen. Untuk memastikan apakah anak-anak muda telah memiliki pergaulan yang sesuai dengan standart kekristenan mari kita simak prinsip- prinsip pergaulan berikut ini:
1. Dalam bergaul, Remaja harus memiliki daftar orang- orang tertentu yang
sebaiknya dijauhi. Maksudnya adalah Remaja tidak boleh bebas bergaul dengan siapa saja. Sama seperti orang tua dan siapa saja kita manusia juga tidak boleh bergaul bebas dengan siapa saja. Didalam bergaul kita harus selektif dalam memilih siapa yang layak menjadi sahabat dan siapa yang selayaknya kita jahui. Lalu seperti apakah panduan dalam memilih kawan yang selektif itu? Inilah daftar orang-orang yang sebaiknya remaja jahui dalam pergaulan.
a. Sahabat/ teman yang berusaha menjerumuskan kita kedalam pelanggaran hukum Tuhan dan hukum manusia. Misalnya saja teman yang coba menjerumuskan kita untuk Berbohong, mencontek, mencuri, berkelai, memusui sesama, meminum minuman keras, merokok, menggunakan Narkotika. Teman yang seperti ini perlu kita jahui. Karena hanya akan merugikan dan merusak serta menghancurkan masa depan remaja. b. Sahabat/teman yang Melecehkan dan merendahkan kita: Mungkin kita pernah bertemu dengan seorang teman yang sukanya terus terusan merendahkan kita, kata-kata ejekan yang diucapkannya senganja untuk merendahkan kita, ada juga teman yang gantinya memberi semangat dukungan tetapi malah sering, menjatuhkan semangat dan meragaukan kemampuan kita. Bila remaja bergaul dengan teman seperti ini bukan membawa kepada peningkatan diri, dan membangun diri kearah kedewasaan. Untuk itu sikap yang harus dimiliki oleh remaja sebaiknya menolak pergaulan dengan teman semacam inic. Teman yang memanfaatkan kita. Teman seperti ini adalah teman yang menjadikan kita bagaikan sapi perah yang siap untuk dihisap dan dimanfaatkan. Mereka menjadikan kita sebagai pesuruh, kita selalu dipaksa membayar makanan baginya, mengerjakan PRnya. Wah Capek kan? Tanpa saling bergantian untuk saling menolong, membantu, memperbaiki bukanlah persahabatan yang wajar.Apa yang seharusnya dilakukan oleh orangtua? Orang tua harus menolong anak
remajanya untuk merasakan terpenuhinya kebutuhan dikasihi, dihargai, dihormati, dipercayai sejak anak anak masih kecil. Dan selanjutnya saat anak mengijak remaja orang tua bisa menolong remaja untuk memiliki daftar criteria teman yang layak dijadikan sahabat yang bisa menolong remaja bertumbuh sehat dan wajar melaui pergaulan yang baik. Sehingga kemanapun anak remaja pergi bisa memilih teman dengan criteria yang tepat.2. Prinsip yang kedua, Berpacaran Tidak boleh tetapi Bergaul dengan yang
takseiman boleh, asal mereka bukanlah daftar teman yang harus dijahui. Sekalipun beda agama remaja sebaiknya diijinkan bergaul dengan mereka. Hal ini sangat penting sebagai sesame ciptaan Tuhan bisa menjalin relasi yang kuat dan saling mengisi dan dapat memper indah dan memperkaya kehidupan masing masing. Kalau remaja tidak mempunyai pergaulan yang cukup luas, maka dikawatirkan cara pandangnya akan sangat terbatas, dan juga toleransi terhadap sesame manusia akan menjadi sangat lemah. Hal ini kelak akan bisa menyebabkan cara pengambilan keputusanya menjadi sangat sederhana. Pergaulan yang baik bisa dijadikan oleh remaja Kristen sebagai tempat untuk bersaksi, bagaimana seorang Kristen hidup ditengah-tengah masyarakat.
Apa yang seharus dilakukan oleh orangtua? Sebelum anak menginjak
remaja dan bergaul dengan teman-teman yang memiliki berbagai latar belakang agama, seyogyanya orang tua sudah terlebih dahulu menanamkan prinsip-prinsip kebenaran yang jelas dan kokoh kepada anak, sehingga saat iman diuji dalam pergaulan remaja mereka dengan pertolongan Tuhan akan seperti Daniel dan kawan-kawannya saat di Babelonia.
3. Remaja sebaiknya Boleh menjalin persahabatan dengan lawan jenis,
Tetapi sebaiknya tidak untuk pacaran hingga memasuki usia Pemuda. Usia remaja sebaiknya adalah usia membangun hubungan seluas luasnya dengaan sesama jenis dan dengan lain jenis tanpa harus diikat dengan ikatan khusus yaitu hubungan romantis. Ada banyak kekayaan dan manfaat diperoleh remaja dari pergaulan kelompok sejenis maupun antar jenis kelamin ini. Anda masih ingat saat remaja dulu bahwa hubungan-hubungan sederhana dengan seorang kawan adalah penting dan itu bagian dari struktur pertumbuhan yang harus dijalani tiap tiap remaja. Hubungan sederhana itu melatih atau merintis jalan kepada hubungan kompleks diusia dewasa kelak.
Bagi remaja Sekedar berbicara saja dengan lawan jenis itu sangat berarti, bagi pertumbuhan mereka, oleh karena berkomunikasi yang dengan santun yang dilakukan sejak usia sangat muda akan sangat membantu dimasa transisi atau peralihan yang lebih normal dikemudian hari. Karena dijaman yang penuh dengan alat komunikasi yang serba canggih ini ternyata kita bisa banyak temukan baik dirumah tangga atau di tengah-tengah masyarakat, ada orang-orang yang tidak sanggup mengkomunikasikan keinginanya dengan santun dan baik. Mereka berunjuk rasa tetapi dengan cara yang anarkis, merusak, menyakiti, menghancurkan dan dipenuhi dengan dendam dan amarah. Hal ini adalah tanda dari gagalnya pembinaan komunikasi yang santun itu sejak dirumah dan disaat mereka usia remaja.
Jadi sangatlah penting pergaulan yang sehat itu dilatih dan dimiliki oleh anak remaja kita. Namun bila semasih remaja anak langsung membina hubungan special, exclusive dengan seorang lawan jenis, sesungguhnya mereka akan langsung kehilangan manfaat dari pergaulan yang aman, penuh keceriaan. Banyak orang salah langkah bahkan juga salah pilih teman hidup atau bahkan terpaksa hidup membujang seumur hidup oleh karena gagal membina friendship diusia remaja.
Apa peran dan fungsi yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Tiga peran dan fungsi orang tua:
a. Pengasuh, berarti orang tua memberikan gizi, baik gizi jasmaniah atau pun gizi batiniah dan rohani kepada anak, sehingga anak bisa bertumbuh besar menjadi orang yang stabil dan cukup sehat.
b. Pengarah dan pendamping, artinya pada masa ini orang tua akan menjadi konselor bagu anak, memberikan arahan-arahan dan secara aktif orang tua memantau perkembangan anak.
c. Penasihat atau konsultan, secara pasif orang tua memberikan masukan kepada anak. Peran ini dilakukan oleh orang tua saat anak sudah dewasa, biarkan anak yang datang mencari kita, barulah kita memberikan masukan tatkala mereka datang kepada kita. Dan janganlah perlakukan anak yang kini sudah dewasa seperti anak kecil lagi.4. Prinsip yang keempat: Ada Tempat-tempat dan Aktifitas-aktifitas yang
tidak selayaknya dilakukan dan kunjungi oleh Remaja. Ada tempat dan Aktifitas tertemtu yang memang tidak boleh remaja kunjungi dan lakukan karena bila dilanggar akan berdampak pada buruk kepada remaja dan masa depan mereka. Misalnya saja dilarang bermain judi, nonton film porno, melihat gambar-gambar porno, atau membuka situs-situs porno, merokok, minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, walaupun hanya sekedar mengantar seorang teman ketempat seperti itu dan meskipun hanya teman-temannya yang melakukan. Ada remaja yang berfikir kita tidak akan terjatuh dengan hanya melihat sekali saja. Pendapat seperti itu adalah sangat berbahaya, karena setan sedang bekerja keras untuk menjatuhkan seriap orang muda. Apalagi bila aktifitas seperti itu dilakukan berulang ulang bisa saja satu kali kelak kita akan tergoda dan jatuh dalam tindakan yang salah dan berdosa.
Apa yang harus dilakukan oleh orang tua: Sebelum anak menginjak usia
Remaja informasi tentang tempat dan aktifitas-aktifitas yang tidak tepat dikunjungi anak remaja sudah harus diberitahukan dengan jelas kepada Anak, Janganlah larangan itu baru keluar setelah anak terlanjur pergi dan melakukan aktifitas yang anak tidak layak pergi dan lakukan.
Ajakan: Kepada Orang tua.
Marilah kita renungkan firman Tuhan Ini Amsal 10:21 “Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi.” Kalau kita mau menggembalakan anak-anak prasyaratnya harus kita penuhi. Yaitu kita harus menjadi orang yang benar, orang yang mengasihi dan takut akan Tuhan. Kita sebagai orang tua juga harus menjadi orang yang hidup dalam Tuhan, dan mempunyai hikmat juga dari Tuhan. Dengan cara itulah anak-anak akan hormat kepada kita, kita bisa menggembalakan mereka.



Read more...

Kondisi Remaja Saat Ini

      Tahukah kita bahwa jumlah remaja Indonesia yang berusia 10-24 tahun mencapai 65 juta orang atau 30 persen dari total penduduk Indonesia? Tahukah kita bahwa sekitar 15-20 persen dari remaja usia sekolah di Indonesia sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah? Tahukah kita bahwa 15 juta remaja perempuan usia 15-19 tahun melahirkan setiap tahunnya? Tahukah kita bahwa hingga Juni 2006 telah tercatat 6332 kasus AIDS dan 4527 kasus HIV positif di Indonesia, dengan 78,8 persen dari kasus-kasus baru yang terlaporkan berasal dari usia 15-29 tahun?
Tahukah kita bahwa diperkirakan terdapat sekitar 270.000 pekerja seks perempuan yang ada di Indonesia, di mana lebih dari 60 persen adalah berusia 24 tahun atau kurang, dan 30 persen berusia 15 tahun atau kurang? Tahukah kita bahwa setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia di mana 20 persen diantaranya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja? Tahukah kita bahwa tidak kurang dari 6 persen remaja usia 10-14 tahun tidak mendapatkan haknya untuk bersekolah dan terpaksa bekerja untuk kelanjutan hidup mereka?
Remaja, Mitos dan AksesSebenarnya karakteristik dan perjalanan tumbuh kembang remaja tidak pernah berubah antara generasi lalu dengan generasi sekarang. Masa remaja tetaplah merupakan suatu fase pertumbuhan dan perkembangan antara masa anak dan masa dewasa. Dalam periode ini pastilah terjadi perubahan yang sangat pesat dalam dimensi fisik, mental dan sosial. Masa ini juga merupakan periode pencarian identitas diri, sehingga remaja sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Umumnya proses pematangan fisik lebih cepat dari pematangan psikososialnya. Karena itu seringkali terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan remaja sangat sensitif dan rawan terhadap stres. Perkembangan fisik remaja dalam usia ini, juga perkembangan kematangan seksualnya, mengalami perubahan yang sangat pesat dan sudah seharusnya menjadi perhatian khusus bagi remaja. Keadaan ini merupakan salah satu penyebab atau alasan bagi remaja untuk coba-coba bereksperimen dengan aktivitas seks, termasuk juga mencoba menggunakan narkoba.
Sayangnya sering kali informasi yang benar untuk remaja tidak didapatkan karena akses untuk itu memang tidak ada. Kalaupun ada masih sedikit sekali yang bisa dengan mudah didapatkan oleh remaja. Termasuk juga akses remaja untuk mendapatkan pelayanan terhadap berbagai masalah yang dihadapinya. Seringkali malah remaja lebih terpapar mitos-mitos yang justru semakin membuat remaja semakin tidak memiliki pegangan untuk membentuk jati diri dan kemampuannya untuk mengambil keputusan yang benar. Tentunya lemahnya mutu pendidikan dan belum meratanya kesempatan remaja mendapatkan pendidikan yang layak juga menjadi sebuah permasalahan bagi bangsa ini. Hal-hal seperti ini berkontribusi terhadap munculnya berbagai masalah pada remaja. Kasus-kasus penyalahgunaan narkoba, hubungan seksual tidak aman, infeksi menular seksual, HIV/AIDS, kehamilan remaja, kekerasan seksual adalah contohnya.
 
Remaja dan HIV/AIDS Kini semakin sering kita dengar remaja dihubungkan dengan kejadian HIV/AIDS. Hal ini sangatlah masuk akal karena remaja dengan mobilitas dan interaksi di lingkungan sosialnya sangat memungkinkan terjadi kontak dengan virus HIV dari pergaulannya. Saat ini di dunia ada sekitar 10 juta remaja hidup dengan HIV/AIDS. Pada saat yang sama remaja juga adalah kelompok paling potensial sebagai sebuah pilihan untuk menjadi penggerak utama untuk berperan dalam menurunkan angka kejadian infeksi baru HIV. Remaja saat ini juga sedang berada dalam sebuah kegundahan situasi karena sekali lagi masih lemahnya akses akan informasi tentang HIV/AIDS yang benar, tekanan dari pergaulan sebayanya, ketidakmampuan mengkalkulasikan risiko, ketidakberdayaan dalam mengambil keputusan termasuk menyatakan tidak buat narkoba, ketidaktahuan dalam menjalankan aktivitas seks yang aman dan akses pelayanan yang terbatas terhadap penggunaan kondom itu sendiri.
Secara global, hampir seperempat dari mereka yang hidup dengan HIV adalah berumur kurang dari 25 tahun dan sepertiga dari perempuan yang telah terinfeksi adalah berusia 15-24 tahun. Di Bali sendiri hingga Juni 2007 tercatat kasus komulatif HIV/AIDS sebanyak 1508 orang. Berdasarkan umur, kelompok umur 20-29 tahun masih menduduki posisi pertama dengan 788 kasus (55 persen). Menyusul kemudian kelompok umur 30-39 tahun dan 15-19 tahun. Dari data ini ada sebuah hal yang menarik untuk disimak bahwa yang terkena adalah kelompok usia produktif, yang bisa jadi prilaku berisikonya sudah dilakukan sejak usia remaja sehingga sejak remaja pula sebenarnya kemungkinan sudah tertular.
 
Hak Reproduksi dan Seksual Remaja 
Remaja memiliki hak reproduksi dan seksual yang merupakan bagian dari hak aasi manusia. Ini juga penting untuk disimak, karena belum banyak remaja dan orang dewasa yang menyadari hal ini. Indonesia adalah salah satu dari 178 negara di dunia yang telah ikut menandatangani rencana aksi dari Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD, Kairo, tahun 1994). Rencana aksi ICPD mengisyaratkan bahwa “negara-negara di dunia didorong untuk menyediakan informasi yang lengkap kepada remaja mengenai bagaimana mereka dapat melindungi diri dari kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual dan HIV/AIDS”. Dan pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 menyatakan bahwa salah satu arah RPJM adalah meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja. Kondisi ini memberikan kerangka legal bagi pengakuan dan pemenuhan hak-hak reproduksi dan seksual remaja di Indonesia.
Read more...

Hari Raya Remaja

       Kita punya lho hari khusus yang diperingati kaum remaja di seluruh dunia yaitu Hari Remaja (Youth Day), setiap tanggal 12 Agustus. Memang Hari Remaja ini belum popular atau belum banyak dikenal di Indonesia.
Gagasan tentang pentingnya remaja memiliki satu hari khusus bermula dari Konferensi Dunia para menteri yang bertanggung jawab menangani masalah remaja yang diselenggarakan di Lisabon pada tanggal 8-12 Agustus tahun 1998. Para menteri ini mengusulkan agar hari terakhir konferensi diperingati sebagai Hari Remaja Sedunia. Akhirnya pada Desember 1999, Sidang Umum PBB mengeluarkan resolusi yang menetapkan bahwa tanggal 12 Agustus sebagai Hari Remaja dan perayaan pertama dimulai tahun 2000.
Sidang Umum PBB juga merekomendasikan perlu adanya kegiatan pemberian informasi kepada masyarakat sehubungan dengan peringatan Hari Remaja untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan Program Aksi bagi Remaja mulai tahun 2000 dan seterusnya.
Tema peringatan Hari Remaja Sedunia 2003 adalah Finding Decent and Productive Works for Young People Everywhere (Mendapatkan Pekerjaan yang Layak dan Produktif untuk Orang Muda di mana saja). Mengapa pekerja remaja yang menjadi tema tahun ini, karena ternyata di dunia ini - menurut PBB - ada sekitar 500 juta anak-anak dan remaja baik laki-laki maupun perempuan yang akan memasuki lapangan kerja pada dekade mendatang.
Sementara itu lapangan kerja yang tersedia terbatas sehingga jutaan anak-anak dan remaja tidak dapat memasuki lapangan kerja karena keterbatasan pendidikan dan ketrampilannya. Dan biasanya anak dan remaja perempuan lebih banyak yang tersisihkan atau menjadi korban.
Situasi dan kondisi remaja saat ini mencerminkan situasi dan kondisi bangsa di masa datang . Bagaimana suatu masyarakat berkembang tergantung pada seberapa jauh remaja dilibatkan dalam proses membangun dan mendesain masa depan. Tetapi dalam kenyataannya, banyak negara belum memberikan kesempatan pada remaja untuk terlibat dalam kehidupan bermasyarakat .
Problem yang dihadapi remaja tidak hanya saat ini, tetapi juga saat yang akan datang, seperti terbatasnya sumber daya yang tersedia, ketidakadilan sosial, kondisi ekonomi-politik, diskriminasi jender, kehidupan yang tidak aman, tingginya angka pengangguran remaja, konflik dan konfrontasi. Selain masalah SARA, kualitas kesehatan, kelaparan, kekurangan gizi, perubahan peran keluarga dan ketidakmerataan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, dan sebagainya.
Satu generasi tanpa harapan untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak akan merupakan suatu beban bagi masyarakat dan negara. Pendidikan dan pekerjaan yang tidak layak pada awal karier seorang remaja akan berdampak buruk pada masa depannya. Remaja yang terasing dari masyarakatnya, frustrasi karena kurangnya kesempatan kerja dan pendidikan, akan mudah jatuh ke dalam tindakan kriminal dan ilegal lainnya.
Di dunia ini banyak ditemui remaja baik laki-laki dan perempuan yang kurang pendidikannya dan tidak mempunyai ketrampilan yang memadai untuk memasuki dunia kerja. Bahkan masih banyak ditemui remaja-remaja yang tidak punya kesempatan sekolah atau mendapatkan pendidikan.
Menjadi tugas pemerintah dan masyarakat untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi warga negaranya terutama remaja. Disamping itu juga perlu diperhatikan untuk memberikan kesempatan yang sama bagi remaja perempuan dan laki-laki.
Sementara itu, pelanggaran terhadap hak anak juga masih banyak terjadi di dunia utamanya yang dialami anak dan remaja di negara berkembang termasuk Indonesia. Misalnya kasus buruh anak, yang dipekerjakan di tempat yang berbahaya bagi keselamatan mereka, dengan upah yang tidak memadai, dengan jam kerja lebih panjang dari seharusnya, serta tanpa jaminan kesehatan dan kesejahteraan.
Kasus lain seperti trafficking, pada kasus ini, anak dijual dan dijadikan pembantu rumah tangga, dilacurkan, dijadikan pengemis, pengedar narkotika atau dieksploitasi di tempat kerja berbahaya seperti jermal, tambang, perkebunan dan sebagainya. Saat ini bahkan dikenal modus baru seperti anak diadopsi secara palsu, direkrut untuk perang, serta kasus-kasus pedophilia.
Hal yang lebih sering dialami anak dan remaja kita dari berbagai kalangan adalah terbatasnya (atau, lebih tepatnya, dibatasinya) akses terhadap informasi yang tepat. Terbatasnya informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas bisa berakibat remaja ingin mengambil jalan pintas, yaitu melibatkan diri dalam pelacuran remaja selain karena masalah ekonomi.
Sudah waktunya bagi kita untuk belajar mengemukakan pendapat dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang menyangkut diri kita. Misalnya, kita harus bisa menuntut bahwa kita mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan maupun pekerjaan yang layak dan tidak diperlakukan sewenang-wenang. Karena negara mempunyai kewajiban untuk menyediakan pendidikan dan pekerjaan yang layak bagi warga negaranya. 

Dari Remaja untuk Remaja oleh Remaja 

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan melibatkan remaja dalam suatu kegiatan atau kebijakan? Kita ambil contoh dalam masalah pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi. Pada awalnya masyarakat banyak yang mempertanyakan mengapa remaja perlu diikutsertakan dalam mengurus masalah Kesehatan Reproduksi? Itu kan untuk mereka yang sudah berumah tangga, atau buat mereka yang memang sudah saatnya membina keluarga baru?
Kehidupan berkeluarga yang bahagia itu justru harus mulai direncanakan sejak remaja, sejak seorang anak mendapat menstruasi atau mimpi basahnya. Kita berhak mendapat informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas, justru supaya bisa melindungi diri dari semua perilaku yang tidak atau kurang baik. Untuk apa? Tentu saja supaya kita tetap sehat secara lahir, batin dan sosial sampai saatnya siap membina kehidupan berumah tangga.
Sudah ada banyak kasus dan contoh dari kehidupan kita sehari-hari bagaimana seorang remaja kehilangan masa depannya hanya karena tidak mendapat informasi yang benar untuk melindungi diri sendiri dan untuk menjaga orang-orang di sekitarnya. Misalnya kasus-kasus kehamilan di luar nikah, aborsi, over dosis, HIV/AIDS, pelecehan seksual dan masih banyak hal lainnya.
IPPF (International Planned Parenthood Federation) dengan PKBI sebagai salah satu anggotanya, sadar betul adanya ancaman besar tehadap remaja, sehingga IPPF dan PKBI mulai menggagas program peduli remaja. Peduli remaja sebagai partner, pelaku dan target group dari semua kegiatan yang diselenggarakan. Sebagai mitra, IPPF sudah mengakui keberadaan remaja untuk duduk bersama para orang dewasa, berdebat, berbagi ide dan pengalaman, untuk kemudian menghasilkan suatu kebijakan yang disebut Youth Manifesto.
Keberadaan youth manifesto telah menjamin hak kita sebagai remaja di seluruh dunia untuk mendapat informasi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan kita. Youth manifesto adalah program atau kebijakan internasional yang dibuat dari, oleh dan untuk remaja.
Ada dua hal yang mendasar bagi IPPF maupun PKBI terhadap eksistensi remaja dalam programnya, yaitu kerjasama remaja-dewasa agar remaja memperoleh informasi yang dibutuhkan; dan agar remaja bisa berpartisipasi secara aktif dalam lingkungan sosialnya.
Keberadaan youth member dalam organisasi IPPF ada dalam setiap level strukturalnya. Sejak 1998, IPPF mewajibkan anggota Governing Council-nya terdiri atas 20% youth representatives (Governing Council adalah badan tertinggi IPPF tempat semua kebijakan IPPF dibahas untuk menentukan strategi dan pengambilan keputusan tertinggi). Coba bayangkan, kita-kita yang remaja ini, diikutsertakan di dalamnya! Ternyata suara kita juga ikut didengar. Enggak gampang lho, mendapat kepercayaan untuk bisa ikut menentukan kebijakan IPPF!
Lalu bagaimana peran remaja dalam pelaksanaan program? PKBI sudah punya 26 youth center di seluruh Indonesia. Remajalah yang punya andil paling besar dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan di youth center. Sebut saja mulai dari identifikasi bentuk program, perencanaan kegiatan termasuk strategi untuk penjangkauan kelompok dampingan, sampai implementasi programnya, semua dikerjakan oleh remaja. Hebat, kan?
Coba deh main ke youth center yang ada di kota kita, teman-teman pasti menjumpai orang-orang yang sebagian besar memang remaja seusia kita-kita. Itulah hebatnya remaja. Kalau kita memang bisa memanfaatkan kesempatan dan punya ruang yang cukup bebas untuk berkembang, jangan pernah menyia-nyiakannya.
Tentu saja kita juga enggak bisa lepas sepenuhnya dari peran orang-orang dewasa. Kegiatan teman-teman di youth center PKBI ini cukup membuktikan kalau kita mau, kita pasti bisa memberi yang terbaik.
Nah, tanggal 12 Agustus nanti, kenapa enggak kita isi dengan sebuah perayaan kecil atas apa yang telah kita capai dan apa yang akan kita lakukan ke depan nanti. Kita mulai mengisi hidup kita dengan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang-orang di sekitar kita, apapun bentuknya. Have a very nice youth day….


Sumber Red: Chatarina Wahyurini dan Yahya Ma'shum PKBI Pusat (Dari berbagai Sumber)
Read more...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...